IDUL FITRI MEWUJUDKAN KEMBALI KEPADA FITRAH (Materi Khutbah Idul Fitri)

IDUL FITRI MEWUJUDKAN KEMBALI KEPADA FITRAH

(Materi Khutbah Idul Fitri)

Oleh: Hamzah Johan Albatahany


Fitrah artinya suci. 

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari)

Maknanya seseorang yang sukses puasa ramadhan seperti seorang bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Fitrah berarti suci dari dosa, suci dari perbuatan syirik, suci dari penyakit rohani.

Ada beberapa wujud untuk kembali kepada fitrah.

1. Wujud kembali kepada fitrah yang pertama : KOKOHNYA KETAUHIDAN

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ


“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30)

Fitrah Allah adalah kesucian Allah dari kesyirikan. Idul Fitri menguatkan keesaan atau tauhidullah. Hal ini dibuktikan dengan anjuran takbiran:

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ  لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

2.  Wujud kembali kepada fitrah yang kedua: MENINGKATNYA KOMITMEN 'UBUDIYAH

Sebagian ulama menegaskan:

لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ وَلـٰكِنَّ الْعِيْدَ لِمَنْ طَاعَتُهُ تَزِيْدُ

"(Hakikat) Idul Fitri bukan bagi orang-orang yang (hanya mengandalkan) pakaian baru. Tetapi, (hakikat) Idul Fitri itu bagi orang-orang yang bertambah ketaatannya".

"Ayam hanya seminggu dikurung dalam kandangnya tak pernah lupa kembali pulang. Manusia sebulan dibina dalam mesjid tentu lebih tahu dengan jalan pulang".


3. Wujud kembali kepada fitrah yang ketiga adalah: TERPELIHARANYA KARAKTERISTIK TERPUJI

Karakter terpuji adalah TAQWA. Puasa melahirkan ketaqwaan. Firman Allah

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَي الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ ۙ

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa" (Al-Baqarah 2:183)

Abd al-Karim bin Hawazin al-Qusyairi. Ulama tasawwuf abad ke 11, berpendapat bahwa sifat-sifat orang yang bertaqwa itu tergambar dari kata تقوى itu sendiri, yakni Tawadhu, Qona'ah, Waro' dan Yakin.

1. Tawadhu adalah merasa rendah hati. Puasa memberikan peluang setiap orang menjadi bertaqwa. Kebanyakan orang miskin lebih rajin ke mesjid, sehingga si kaya berfikir; boleh jadi orang-orang miskin ini lebih taqwa daripada saya, sehinggga si kaya berendah hati pada si miskin.

2. Qona'ah merasa cukup dengan pemberian Allah. Nabi SAW sering sahur dan berbuka dengan 3 biji kurma terkadang hanya dengan air putih saja. 

Maknanya seorang mukmin terlatih dengan apa adanya sehingga merasa cukup meski penghasilan sedikit.

"Penghasilan sedikit mencukupi jika untuk memenuhi KEBUTUHAN HIDUP. Tapi penghasilan banyak tak kan pernah cukup untuk memenuhi GAYA HIDUP".

3. Wara' adalah meninggalkan dosa-dosa kecil dan besar.

Sifat Wara' ini tergambar dalam ayat-ayat puasa yang dikonci dengan ayat harta. Puasa dijelaska mulai dari ayat 183 sampai 187 dalam surat al-Baqarah, kemudian dikonci dengan ayat 188:

وَلَا تَاْكُلُوْۤا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَاۤ اِلَي الْحُكَّامِ لِتَاْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ 


"Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui".

Maknanya, bahwa orang yang berpuasa sangat berhati-hati dengan persoalan harta.

4. Yaqin adalah sifat percaya dan bertemu dengan Allah

الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوْا رَبِّهِمْ وَاَنَّهُمْ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۙ

(yaitu) mereka yang yakin, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.(Al-Baqarah 2:46)

Dan orang-orang yang berpuasa itu akan gembira bertemu dengan Allah;

Dalam hadits disebutkan;

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan yaitu kegembiraa ketika dia berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabbnya.(HR.Muslim)


Dengan mewujudkan atau membuktikan 3 hal tersebut, yakni Mengokohkan ketauhidan, meningkatkan 'ubudiyah dan memelihara karakter terpuji, insya Allah kita akan selamat di dunia dan di akhirat.

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم


“Semoga Allah menerima amal kami dan kalian”


Wallahu a'lam.

Batam, Ahad, 27 Ramadhan 1442 H./9 Mei 2021 M.

Hamzah Johan Albatahany.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama