ZAT TUHAN

 


ZAT TUHAN

Oleh: Prof. KH. Nasaruddin Umar, MA, Ph.D 

"Barang siapa yang mengenali dirinya, maka ia akan mengenali Tuhannya".

Kalangan teolog (mutakallimin) membayangkan Tuhan sebagai Dia dalam diri- Nya sendiri dan mengesampingkan alam dan segala makhluknya. Zat Tuhan tidak bisa diketahui karena di luar batas cakupan pemahaman kita (beyond our grasp). 

Hadis yang sering di kutip ialah: Tafakkaru fi khalq Allah, wala tafakkaru fi Dzat Allah (Pikirkanlah makhluk Allah dan jangan memikirkan Zat Allah). 

Zat Tuhan sama sekali berbeda dengan makhluk-Nya, sebagaimana ditegaskan dalam Alquran, “Laisa kamitslihi syai’ (Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” (QS. As-Syura: 11).

Kaitannya dengan sifat-sifat Tuhan sebagaimana tercantum dalam Al-Asma Al-Husna, yang mempunyai keserupaan dengan sifat-sifat luhur yang dianjurkan untuk ditiru manusia: Takhallaqu bi akhlaq Allah (Berakhlaklah dengan akhlak Allah), bagi teolog, tetap dalam kapasitas Tuhan yang sama sekali berbeda dan tak dapat dibandingkan dengan sifat-sifat makhluk-Nya. 

Dengan demikian, mereka lebih menekankan aspek tanzih, yakni ketakterbandingan Tuhan, sebagaimana yang dijelaskan di dalam artikel terdahulu.
 Para mutakallimin lebih menekankan aspek transendensi Tuhan. Seolah Tuhan dengan keserbamahaan sifat dan zat-Nya berada jauh dari kesederhanaan manusia dan makhluknya. Manusia berusaha untuk selalu mendekatkan diri (taqarrub) dengan berbagai persembahan kepada-Nya. Semakin taat dan patuh seorang hamba terhadap Tuhan-Nya semakin dekat pula hamba itu, demikian pula sebaliknya.

Berbeda dengan kalangan sufi, yang menggambarkan substansi Tuhan mempunyai keserupaan (tasybih) dengan makhluk- Nya. Keserupaan antara esensi Tuhan dan makhluknya merupakan konsekuensi dan akibat. Tuhan dan makhluk-Nya memiliki hubungan kausalitas.
 Makhluk, terutama manusia, merupakan lokus pengejawentahan (majla) dan lokus penampakan (madzhar) nama-nama dan sifat-Nya, yang sengaja diciptakan dari diri-Nya sendiri.

Makhluk Tuhan bagi kalangan sufi dianggap sebagai jauhar atau aradh yang memanifestasikan substansi Tuhan (lihat artikel sebelumnya tentang jauhar dan aradh). 

Dengan demikian, wilayah perbatasan antara Khalik dan makhluk menjadi tidak jelas. Satu sisi tidak bisa dipisahkan karena satu substansi yang lainnya manifestasi, tetapi pada sisi lain diakui antara Sang Khalik tidak identik dengan makhluknya, meskipun tidak dapat dipisahkan. Karena itu, Ibnu Arabi tidak menggunakan istilah Al-Khaliq dan al-makhluk tetapi Al-Haq dan al-khalq.

Para sufi lebih menekankan aspek imanensi Tuhan. Tuhan tidak lain adalah Sang Substansi makhluk itu sendiri. Wujud makhluk berupa alam raya adalah refleksi atau madzhar dari hakikat wujud (al-Haqiqah al-Wujud). 

Antara madzhar dan al- Haqiqah al-Wujud bisa dianggap sebagai satu kesatuan (tauhid) yang tak terpisahkan, namun sulit juga dimengerti jika dikatakan antara keduanya identik. Mungkin hubungan ini kurang tepat disebut dualitas, tetapi polaritas atau dua dimensi komplementer dari realitas tunggal.

Kalangan teosofi seperti Ibnu Arabi selalu berusaha mengelaborasi pendapat teolog dan sufi dengan konsep dualitas Ilahi (the duality of God). Ibarat selembar kertas yang sebelah sisinya berisi catatan dan sisi sebelahnya kosong. 

Sebelah sisi yang kosong itulah disebut dengan rahasia dari segala rahasia (sir al-asrar) yang oleh kalangan sufi sering diistilahkan dengan Ahadiyah, sedangkan sisi sebelahnya yang berisi tulisan disebut dengan Wahidiyah. Ibarat sebuah mata uang, kedua sisinya berbeda tetapi tetap satu. Penyatuan antara keduanya justru itulah yang hakikat tauhid.

Sehubungan dengan ini, menarik diperhatikan apa yang dilukiskan oleh Khwaja Abdullah An-shari (w 481 H/1089 M), “Tak seorang pun menegaskan Keesaan Zat Mahaesa, sebab semua orang yang menegaskan-Nya sesungguhnya mengingkari-Nya. Tauhid orang yang melukiskan-Nya hanyalah pinjaman, tidak diterima oleh Zat Mahaesa. Membayangkan Tauhid atas diri-Nya sendiri adalah tauhid yang sesat.”

Dengan menyatakan keserupaan (tasyabuh) untuk-Nya maka sesungguhnya kita menyatakan keesaan-Nya. Sebaliknya, dengan menyatakan perbedaan (tanzih) maka kita mengingkari keesaan-Nya dan itu musyrik. Kebalikan pendapat teolog, menyerupakan Tuhan dengan makhluknya adalah musyrik.

Yang pasti ialah tidak ada yang lebih mengenal lebih jelas siapa Tuhan selain diri-Nya. Kita mengenal seolah dua pengertian Tuhan, yaitu Tuhan hakiki dan Tuhan dalam konsep manusia. Tuhan hakiki kita tidak bisa men definisikannya. Tuhan yang kita bicarakan sekarang Tuhan dalam konsep manusia.

Realitas Tuhan jauh di atas realitas manusia. Zat Yang Mahamutlak tidak bisa ditampung oleh zat yang relatif. Bukan Tuhan kikir tidak mau memperkenalkan diri-Nya kepada kita, tetapi seperti kata Jalaluddin Rumi, “Apalah arti sebuah cangkir untuk menampung samudra.” 

Memori kita terlalu kecil untuk meng-attach Zat Yang Mahabesar. Kita tidak mungkin mengenal Tuhan dalam diri-Nya sendiri, tetapi hanya sejauh Tuhan mengungkapkan diri-Nya melalui alam raya, yang dikatakan-Nya sebagai ayat yang harus dibaca bagi mereka yang ingin mengenali diri-Nya.

Isyarat lain seperti dikatakan Rasulullah, “Barangsiapa yang mengenali dirinya, maka ia akan mengenali Tuhannya” (man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu). Membaca atau menyadari diri dengan penuh penghayatan maka kita berpotensi lebih mengenal Diri-nya. Ini sesuai dengan ayat Alquran, “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri.” (QS. Fushshilat: 53).

Substansi Tuhan dalam konsep manusia teruslah kita dalami jika kita hendak mendapatkan makna hidup yang sejati. Tuhan sudah membentangkan referensi dan refleksi bagi orang yang ingin lebih mengenali Diri-Nya, baik dalam bentuk alam semesta (makrokosmos) maupun yang tersembunyi di dalam diri (mikrokosmos). 

Bacalah dan kenalilah mereka sehingga pada akhirnya kita akan sampai pada pemahaman siapa sesungguhnya mereka, siapa diri kita, dan siapa Dia. Siapa Yang Esa dan siapa yang banyak? Subhanallah.

Sumber : Republika.co.id

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama