JANGAN MEMAKI SESEMBAHAN NON MUSLIM DAN JANGAN PULA MEMAKI ORANG TUA ORANG LAIN

 


JANGAN MEMAKI SESEMBAHAN NON MUSLIM DAN JANGAN PULA MEMAKI ORANG TUA ORANG LAIN

Dalam KBBI disebutkan: me·ma·ki adalah mengucapkan kata-kata keji, tidak pantas, kurang adat untuk menyatakan kemarahan atau kejengkelan.

Dalam Kamus Arab Indonesia (KAI): Memaki sepadan dengan makna menghina dan mencaci.

1. LARANGAN MEMAKI SESEMBAHAN NON ISLAM

Dalam Al-Qur'an dilarang memaki sesembahan non Islam 

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ فَيَسُبُّوا اللهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan” (QS Al-An'am: 108).

Asbabun Nuzul

Abdurrazzaq berkata,"Muammar memberi tahu kami bahwa Qataadah berkata, 'Dahulu kaum muslimin memaki berhala-berhala kaum kafir sehingga kaum kafir tersebut memaki Allah. Maka Allah menurunkan firman-Nya, 'Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah,..." ( Asbabun Nuzul, Jalaludin As-Suyuti).

Mulanya, sambil menyebarkan Islam, beberapa sahabat Nabi sallallàhu ‘alaihi wasallam menghina sesembahan kaum musyrik. Merasa terganggu  dengan tindakan tersebut, mereka mengancam akan berbalik memaki Allah. Ayat ini lalu turun untuk melarang cara dakwah yang demikian. (ASBÀBUN-NUZÙL: Kronologi dan Sebab Turun Wahyu Al-Qur’an, Muchlis M. Hanafi)

Dapat difahami bahwa memaki sesembahan non Islam dilarang oleh Allah dan memaki tersebut bukanlah cara berdakwah yang baik, justru menimbulkan permusuhan, kemudharatan dan menghilangkan rasa simpati pada Islam.

2. LARANGAN MEMAKI ORANG TUA

Memaki orang tua termasuk dosa besar.  Memaki orang tua sendiri secara langsung jarang terjadi, tapi tanpa disadari terkadang secara tidak langsung seseorang telah memaki orang tuanya disebabkan dia memaki orang tua orang lain hingga orang lain itu balas memaki orang tuanya. Dalam hadits disebutkan,

وعن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما أن رَسُول الله - صلى الله عليه وسلم - قَالَ: «مِنَ الكَبَائِر شَتْمُ الرَّجُل وَالِدَيهِ!»، قالوا: يَا رَسُولَ الله، وَهَلْ يَشْتُمُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟! قَالَ: «نَعَمْ، يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ، فَيَسُبُّ أبَاه، وَيَسُبُّ أُمَّهُ، فَيَسُبُّ أُمَّهُ». مُتَّفَقٌ عَلَيهِ. وفي رواية: «إنَّ مِنْ أَكْبَرِ الكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ!»، قِيلَ: يَا رَسُول الله، كَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيهِ؟! قَالَ: «يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ، فَيَسُبُّ أَبَاهُ، وَيَسُبُّ أُمَّهُ، فَيَسُبُّ أُمَّهُ»

Dari Abdullah bin Amr bin al-'Ash r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Termasuk dalam golongan dosa-dosa besar ialah jikalau seorang itu Memaki-maki kedua orang tuanya sendiri." Para sahabat bertanya: "Ya Rasulullah, adakah seseorang itu -yang- Memaki-maki kedua orang tuanya sendiri." Beliau s.a.w. menjawab: "Ya, yaitu apabila seseorang itu Memaki-maki ayah seseorang, lalu orang yang dimaki-maki ayahnya itu lalu -membalas- Memaki-maki ayahnya sendiri -yang Memaki tersebut-. Atau seseorang itu Memaki-maki ibu orang lain, lalu orang yang dimaki-maki ibunya ini -membalas- Memaki-maki ibunya sendiri -yang Memaki tersebut-." (Muttafaq 'alaih). Dalam riwayat lain disebutkan: "Sesungguhnya termasuk sebesar-besarnya dosa besar ialah apabila seorang itu melaknat kepada kedua orang tuanya sendiri." Beliau s.a.w. ditanya: "Ya Rasulullah, bagaimanakah seorang itu melaknat kedua orang tuanya sendiri?" Beliau s.a.w. bersabda: "Yaitu orang tadi Memaki-maki ayah orang lain, lalu orang ini -membalas- Memaki-maki ayahnya sendiri -yang Memaki tersebut- atau orang itu Memaki-maki ibu orang lain, lalu orang ini -membalas- Memaki-maki ibunya sendiri -yang Memaki tersebut-." (Riyadhus Shalihin).

Dari uraian diatas dapat disimpulkan:

1. Memaki, mencaci, menghina siapa pun dilarang di dalam ajaran Islam.

2. Ingat selalu untuk tidak memaki sesembahan non Islam, demikian juga jangan memaki orang tua orang lain sebab mereka akan membalas mencaci maki Allah atau orang tua kita sendiri.

3. Hindari caci-maki dalam berdakwah karena menghilangkan simpati orang terhadap Islam. Berdakwahlah dengan hikmah dan mau'izhoh, lewat dialog dan diskusi intelektual yang mencerdaskan berdasarkan dalil-dalil yang kuat.

Wallahu a'lam.

Batam, Ahad 20 Muharram 1443 H. /Sabtu 28 Agustus 2021 M. Jam 22.10 WIB.


HAMZAH JOHAN ALBATAHANY



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama