Apakah Memiliki Mursyid Menjadi Syarat Masuk Surga?

 


Apakah Memiliki Mursyid Menjadi Syarat Masuk Surga?

Pertanyaan diatas sering muncul di tengah masyarakat yang timbul karena ajaran sebagian guru tasawwuf yang menggadang-gadangkan mursyid dalam thariqatnya. Mursyid mereka tempatkan pada kedudukan yang sangat tinggi dalam keyakinan mereka, sehingga ada yang menjadikan syarat untuk masuk surga. Dengan kata lain seseorang tanpa memiliki seorang mursyid maka ia tidak masuk surga. Apakah memang demikian?

Perkataan mursyid berasal dari kata irsyada, yaitu memberi tunjuk-ajar. Dengan kata lain, mursyid berarti, seseorang yang ahli dalam memberi tunjuk-ajar terutama dalam bidang spiritual, dalam istilah para sufi.

Kata mursyid terdapat dalam Al-Qur'an surat Al-Kahfi ayat 17

 مَن يَهْدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلْمُهْتَدِۖ وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُۥ وَلِيًّا مُّرْشِدًا 

"Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya".

Kata 'waliyyan mursyidan' dalam ayat diatas diterjemahkan 'seorang penolong yang dapat memberi petunjuk'. 

Ada pula yang menterjemahkan kata 'wali' itu 'pemimpin', sehingga 'waliyyan mursyidan' itu bermakna 'seorang pemimpin yang dapat memberi petunjuk' [lihat tafsir Jalalain].

Kaum sufi yang lurus memaknai mursyid adalah mereka yang bertanggung jawab memimpin murid dan membimbing perjalanan rohani murid untuk sampai kepada Allah s.w.t., dalam proses tarbiah yang teratur, dalam bentuk tarekat sufiyah.

Jadi jelas sekali bahwa memiliki mursyid bukan menjadi syarat untuk bisa masuk surga tapi hanya sebagai pembimbing seseorang atau muridnya ke jalan yang benar. Dan tidak ada satu ayat dan hadits pun menyebutkan bahwa mursyid menjadi syarat yang wajib ada bagi seseorang untuk dapat masuk surga.

Ada pun syarat masuk surga disinyalir dalam beberapa dalil, antara lain:

Maryam 19:60

إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحًا فَأُو۟لَٰٓئِكَ يَدْخُلُونَ ٱلْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْـًٔا 

"Kecuali orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan kebajikan, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dizhalimi (dirugikan) sedikit pun"

firman Allah ta’ala,

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Itulah surga yang dikaruniakan untuk kalian, disebabkan amal sholeh kalian dahulu di dunia” (QS. Az-Zukhruf : 72)

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ ) أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ

Hadis No. 1562 Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Amal yang paling banyak menentukan Masuk surga ialah takwa kepada Allah dan perangai yang baik." Riwayat Tirmidzi. Hadis shahih menurut Hakim.

 عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: "أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ  فَقَالَ: أَرَأَيْت إذَا صَلَّيْت الْمَكْتُوبَاتِ، وَصُمْت رَمَضَانَ، وَأَحْلَلْت الْحَلَالَ، وَحَرَّمْت الْحَرَامَ، وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئًا؛ أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ؟ قَالَ: نَعَمْ". رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Abu Abdillah Jarir Al-Anshari RA menerangkan, ada seorang lelaki yang bertanya kepada Rasulullah SAW, ''Bagaimana pendapatmu jika aku telah mengerjakan sholat maktubah (sholat fardhu lima waktu), berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, dan aku tidak menambahnya dengan suatu apapun. Apakah aku bisa masuk surga?'' Rasul menjawab, ''Ya.'' (HR Muslim).

Dalam hadis Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu disebutkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

لَا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، وَلَا يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ، وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ

“Tidak ada amalan seorangpun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah” (HR. Muslim no. 2817).

مَا مِنْ عَبْدٍ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ثُمَّ مَاتَ عَلَى ذَلِكَ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

"Tidaklah seorang hamba yang mengucapkan "LA ILAAHA ILLALLAH" kemudian mati karena itu melainkan ia akan masuk surga." (HR. Bukhari: 5379)

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

"Setiap umatku masuk surga selain yang enggan, " Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, lantas siapa yang enggan?" Nabi menjawab: "Siapa yang taat kepadaku masuk surga dan siapa yang membangkang aku berarti ia enggan." (HR. Bukhari: 6737)

مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ

 "Orang yang meninggal dalam keadaan tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu apapun maka wajib masuk surga, dan orang yang meninggal dalam keadaan mensyirikkan Allah dengan sesuatu maka wajib masuk neraka." (HR. Muslim: 135)

Dari berbagai dalil dari Al-Qur'an dan Al-Hadits diatas, maka dapat disimpulkan bahwa untuk masuk surga itu secara garis besarnya disebutkan dalam surah Maryam ayat 60 yang mengisyaratkan:

1. Bertaubat

2. Beriman

3. Beramal sholeh

Bertaubat berarti menyesali semua kesalahan dan dosa terdahulu dan meninggalkan maksiat tersebut disertai dengan beriman dan beramal sholeh.

Beriman berarti tidak berbuat syirik kepada Allah, mengimani dan menunaikan keimanan tersebut sesuai dengan rukun iman yang sudah ditetapkan agama.

Beramal sholeh berarti melakukan segala perbuatan yang diridhoi oleh Allah SWT, seperti shalat, zakat, puasa, haji, sedekah, baca Al-Qur'an, menuntut ilmu dan sebagainya.

Setelah bertaubat, beriman dan beramal sholeh maka syarat terakhir yang paling menentukan untuk masuk surga adalah  rahmat Allah SWT


Wallahu a'lam.


Batam 3 Oktober 2021

Hamzah Johan Albatahany

2 Komentar

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama