TUJUAN, KUALITAS DAN KEUTAMAAN MENOLONG ORANG LAIN

 


TUJUAN, KUALITAS DAN KEUTAMAAN MENOLONG ORANG LAIN

TUJUAN MENOLONG

Menolong orang lain sangat dianjurkan oleh ajaran Islam. Tujuannya karena ingin melepaskan kesulitan orang lain dan ingin mendapatkan ridha Allah maka dia mencapai tingkat keikhlasan.

Tapi ketika dia menolong orang tujuannya karena ingin dihormati dan balasan dari yg ditolongnya, maka dia akan kecewa berat, marah, benci, mengupat, balas dendam dan boleh jadi bakal menyebarkan fitnah atas orang yang pernah dia tolong itu.

KUALITAS MENOLONG

Kualitas menolong tergantung tiga hal, yakni beramal, konsisten dan mengharap ridha Allah SWT. Menolong adalah ladang amal sholeh. Konsisten adalah berkesinambungan, terus-menerus. Orang yang ikhlas menolong akan melupakan pertolongannya dan tidak berharap akan dibalasi oleh orang yang ditolongnya itu. Dan dia tetap menolong selagi orang itu dalam kesulitan. 

Ukuran menolong hanya ingin meringankan beban orang lain demi mencapai ridha Allah SWT, tanpa embel-embel balasan dari orang yang ditolongnya itu. 

KEUTAMAAN MENOLONG ORANG LAIN

Dalam Alquran, Allah SWT memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bertakwa dan gemar mengulurkan bantuan kepada sesama. 

وَتَعَاوَنُوْا عَلَی الْبِرِّ وَالتَّقْوی

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa" (QS al-Maidah:2).

وَاللهُ فِـي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya...” (HR Muslim) 

Dalam kitab Mukasyafatul Qulub karangan iman Al-Ghazali menyebutkan keutamaan menolong orang lain itu ada 5 yaitu:

Pertama, akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berperang membela kedaulatan agama. Sabda Nabi:

مَنْ مَشٰی فِی عَوْنِ اَخِيْهِ وَمَنْفَعَتِهِ فَلَهُ ثَوَابُ الْمُجَاهِدِينَ فِی سَبِيْلِ اﷲِ.

“Barang siapa yang berjalan dalam rangka menolong dan memberikan manfaat kepada saudaranya maka ia mendapatkan pahala seperti pahalanya Mujahidin di sabilillah”.

Kedua, mendapatkan pembebasan dari siksa neraka dan nifaq. Seperti sabda Nabi:

مَنْ سَعٰی لِاَخِيْهِ الْمُسْلِمِ فِی حَاجَۃٍ  فَقُضِيَتْ لَهُ اَوْ لَمْ تَقْضِ غَفَرَ اﷲ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَاَخَّرَ وَكَتَبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ, بَرَاءَۃٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَۃٌ مِنَ النِّفَاقِ

“Barang siapa yang berjalan dalam rangka membantu kebutuhan saudaranya yang muslim baik kebutuhan/hajatnyass terlaksana maupun tidak terlaksana maka Allah mengampuni dosa-dosa yang terdahulu maupun yang akan datang, dan Allah mencatat baginya dua pembebasan, yaitu pembebasan dari neraka dan pembebasan dari nifaq”.

Ketiga, setiap langkah dibalas dengan tujuh puluh kebaikan dan dijauhkan dari tujuh puluh kejelekan. Berdasarkan sabda Nabi:

مَنْ مَشٰی فِی حَاجَۃِ اَخِيْهِ الْمُسْلِمِ كَتَبَ اﷲ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَۃٍ سَبْعِينَ خَسَنَۃ وَكَفَرَ عَنْهْ سَبْعيْنَ سَيِّاءۃ. . . . .

“Barang siapa yang berjalan dalam rangka memenuhi hajat saudaranya yang muslim maka setiap satu langkah akan dibalas dengan tujuh puluh kebaikan dan dijauhkan dari tujuh puluh kejelekan. . . “

Keempat, dosa-dosanya dihapus seperti bayi yang baru lahir, seperti sabda Nabi

فَاِنْ قُضِيَتْ حَاجَتُهُ عَلٰی يَدَيْهِ خَرَجَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ اُمُّهُ. . . .

“. . . . Jika ia melaksanakan hajat (saudaranya) maka ia keluar dalam keadaan bersih dari dosa-dosa seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya”.

Kelima, jika ia meninggal dalam keadaan ia membantu orang lain maka ia masuk surga tanpa hitungan amal. Hal ini berdasarkan sabda Nabi:

فَاِنْ مَاتَ فِی خِلَالِ ذٰلِكَ دَخَلَ الْجَنَّۃَ بِغَيْرِ حِسَابٍ. . . .

“Maka jika ia meninggal dalam keadaan (membantu saudaranya) tersebut maka ia masuk surga tanpa hisab”.

Dengan demikian marilah kita saling membantu dan saling tolong-menolong antar sesama manusia khususnya sesama muslim dalam berbagai urusan dunia maupun urusan akhirat karena semua itu jika diniati ikhlas lillahi ta’ala maka akan menjadi tambahan nilai ibadah.

Nabi SAW menerangkan, 

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ, أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً, أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا, أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا

Amalan yang paling dicintai Allah adalah engkau menyenangkan seorang muslim, atau engkau mengatasi kesulitannya, atau engkau menghilangkan laparnya, atau engkau membayarkan hutangnya.

Sangat terang bahwa pahala menolong itu sangat besar; dampaknya sangat positif meringankan kesusahan orang lain dan menambah amal ibadah. Akan tetapi kualitas menolong akan rusak ketika dikotori oleh riya dan menyebut-nyebutnya, perbuatan tersebut berdampak negatif karena dapat menyakiti hati orang yang ditolong itu dan menghilangkan pahalanya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُبْطِلُوا۟ صَدَقَٰتِكُم بِٱلْمَنِّ وَٱلْأَذَىٰ كَٱلَّذِى يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِۖ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٌ فَتَرَكَهُۥ صَلْدًاۖ لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَىْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا۟ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ 

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena ria (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir". [Al-Baqarah 2:264]


Wallahu a'lam.



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama